Senin, 17 Juli 2017

HATI-HATI LIRIK DESPACITO PORNO



Banyak orang yang suka dengan lagu ini setelah mendengar sekilas dari soundtrack acara-acara televisi.
Dan saya pun begitu, saya tau lagu ini ketika saya melihat di explore instagram, setelah saya dengar memang begitu asik untuk di dengar.
"Despacito" merupakan single terbaru milik Luis Fonsi. Luis Fonsi adalah penyanyi pop  asal Puerto Rico yang cukup populer di negara-negara berbahasa Spanyol. (Tabloidbintang.com)
Namun hati-hati dengan lirik nya ketika diterjemahkan lirik lagu itu ternyata bertemakan porno,
Kita lihat sebagian lirik nya seperti ini :
Despacito
-Pelan-pelan
Quiero respirar tu cuello despacito
-Aku ingin bernafas dilehermu pelan-pelan
Deja que te diga cosas al oรญdo
-Biarkan aku berbisik ditelingamu
Para que te acuerdes si no estรกs conmigo
-Supaya kau bisa mengingat aku saat kau tak bersamaku
Despacito
-Pelan-pelan
Quiero desnudarte a besos despacito
-Aku ingin melepaskan pakaianmu secara perlahan sambil menciummu
Firmo en las paredes de tu laberinto
-Memasuki "dinding labirin" mu
Y hacer de tu cuerpo todo un manuscrito
-Dan membut tanda diseluruh tubuhmu
(Sube, sube, sube Sube, sube)
-(Naik, naik, naik, naik)
Dan paling parah nya banyak anak kecil indonesia yang mengcover lagu ini,
Untung-untung jika mereka tidak tahu lirik nya bagaimana jika mereka tahu liriknya dan faham maksud nya?
Bahaya juga.
Dan kebanyakan orang pada begitu bangga dengan menyanyikan lagu ini ketika mereka hafal karena tingkat kesulitan liriknya mereka begitu bangga,
Siapa yang tidak bangga? Lagu ini banyak orang menjadi beruntung ketika mengcover lagu despacito Seperti para youtuber yang meraih keuntungan dengan menyanyikan lagu ini.

INTELEKTUALITAS QUR’ANI KAUM ULUL-ALBAB KAJIAN AYAT-AYAT ULUL-ALBAB




INTELEKTUALITAS QUR’ANI KAUM ULUL-ALBAB
KAJIAN AYAT-AYAT ULUL-ALBAB
Oleh: Tibaus Surur
Al-Qur’an menyebutan mengenai ulul-albab diungkap sebanyak enam belas kali , begitu banyak Allah Swt menyebutkan hal tersebut, sehingga menarik untuk kita kaji bagaimana sebenarnya kaum ulul-albab menurut di dalam al-Qur’an tersebut. Dengan kita melihat ayat-ayat tesebut, begitu konfrehensif mengenai tema-tema yang diusung dari ayat-ayat tersebut, jikalau kaum ulul-albab menerapkan hukum qishash, maka kehidupan pada hukum qishash tersebut pun akan terwujud , juga mengenai pembahasan haji, pada pembahsan ini pun disebutkan tentang kaum ulul-albab, tentang ayat-ayat muhkamat dan mustasyabihat, tentang penciptaan langit dan bumi juga pergantian siang dan malam, tentang al-Qur’an yang diturunkan diperuntukan untuk kaum ulul-albab, dan masih banyak lagi pembahasannya yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang dimana pada pembahasan-pembahasan tersebut disinggung tentang ulul-albab nya.
Namun yang harus kita renungkan adalah, apa kriteria ulul-albab itu? Bagaimana kita untuk mencapai derajat ulul-albab? Yang telah disebutkan berkali-kali oleh al-Qur’an. Apakah dengan kecerdasannya saja sudah mencapai ulul-albab? Ataukah orang-orang yang menguasai Ilmu kedokteran, Ilmu Teknologi, Ilmu Filsafat, Ilmu Jurnalist dan Ilmu-ilmu lainnya. Atau orang yang memilki gelar Professor doktor yang begitu banyak gelar yang dia miliki. Apakah hal-hal tersebut yang disebut kaum ulul-abab oleh al-Qur’an?
Dari pertanyaan-pertanyaan diatas, penulis sedikit tertarik membahas mengenai permasalahan tersebut, karena ulul-albab tidak hanya orang-orang yang mangandalkan akal nya saja (Ashahabul-Uqul) yang menyebabkab akal tersebut menguasi hatinya. Padahal yang sebenarnya, ulul-albab itu adalah hati bukan akal.
Maka dari itu, di dalam tulisan ini akan dibahas sedikit bahwa sebenarnya ulul-albab adalah hati. Dan penulis memberikan judul pada tulisan ini “INTELEKTUALITAS QUR’ANI KAUM ULUL-ALBAB”, ini menjadi korelasi sendiri yang akan menyebabkan hati yang dekat dengan al-Qur’an dan mentadaburinya. Itulah yang dimaksud ulul-albab oleh al-Qur’an tafsir QS. Shad [38:29].
*DEFINISI*
Jika melihat terjemahan mushaf al-Qur’an, tentunya mushaf yang diterbitkan oleh pemerintahan Indonesia, mengartikan ulul-albab ini dengan perngertian orang-orang yang mempunyai fikiran. Pengertian ini sudah familiar di kalangan masyarakat, tentunya tidak keliru mengartikan ulul-albab dengan pengertian tersebut. Akan tetapi, makna yang sebenarnya ulul-albab adalah hati. pengertian tersebut terdapat di dalam Lisanul-‘Arab mengar-tikan albab adalah lubb kulii syai’in  (intisari dari setiap perkara), kata lubb asalnya labba-labbba-lubabah jama’ dari al-lubub yang berarti:
ูˆู‚ุฏ ุบู„ุจ ุงู„ู„ุจ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠุคูƒู„ ุฏุงุฎู„ู‡، ูˆูŠุฑู…ู‰ ุฎุงุฑุฌู‡ ู…ู† ุงู„ุซู…ุฑ
“dan sungguh lubb telah menguasai terhadap fikiran yang memasukinya, dan telah mengeluarkannya yang merupakan dari buah hasilnya”
Jika pengertian lubb dinisabatkan kepada seseorang maka pengertiannya pun menjadi:
ูˆู„ุจ ุงู„ุฑุฌู„: ู…ุง ุฌุนู„ ููŠ ู‚ู„ุจู‡ ู…ู† ุงู„ุนู‚ู„
“maka Lubb al-Rajul: menjadikan akal itu tertuju pada hatinya”
Maka sebenarnya, kaum ulul-albab – kecerdasan seseorang – itu adalah hati bukan akal bukan pula cara berpikirnya. Inilah yang dimaksud ulul-albab yang disebutkan di dalam al-Qur’an. pun, cukup konsisten al-qur’an menyebutkan di dalam al-qur’an ketika orang-orang hendak masuk neraka – lahum qulubun laa yafqahuna biha  – bahwa mereka punya hati, tapi hati mereka tidak dapat memahami ayat-ayat Allah dengan hati tersebut, mereka hanya menggunakan akalnya saja tidak diiringi dengan hati yang jernih. ini jelas, yang menjadikan fatokan kecerdasan seseorang adalah hati bukan akal atau cara berpikirnya. Hati yang dapat mengantarkan kepada petunjuk Allah Swt. Maka, akan lebih tepat jika diterjemahkan menjadi orang-orang yang mempunyai hati dan fikiran. Karena memang yang menjadi kendali fikiran adalah hati. Dalil yang menjelaskan bahwa yang sebenarnya untuk berpikir itu hati terdapat di dalam Qs. Al-Hajj [22:46], ayat ini menjelaskan bahwa mereka yang berjalan di muka bumi, sedang mereka mempunyai hati yang dapat memahami ayat-ayat Allah Swt dengan hati tersebut.
*AKAL DAN HATI*
Akal dan hati merupakan dua unsur yang diberikan oleh Allah Swt kepada setiap manusia. Dua unsur yang perlu memerlukan konsumsi. Akal merupakan unsur fisik yang konsumsi nya dari tanah, maka konsumsinya pun harus dari tanah. Karena pengarang tafsir al-Qurthubi yakni Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Abi Ahmad ibn Abi Bakar ibn Farh al-Anshrariy al-Khazraji Syamsuddin al-Qurthubi menjelaskan bahwa akal tempat nya pada otak  (ad-Dimag). Oleh karena itu, otak merupakan sebagian fisik masnusia, maka tidaklah keliru konsumsi otak itu merupakan dari tanah, seperti makanan yang ada di dunia sekarang ini. Manusia merupakan makhluq yang paling sempurna, karenanya manusia diberikan akal oleh Allah Swt, namum akal yang diberikan oleh Allah ini tidak dapat serta merta, manusia disebut ulul-albab, karena belum tentu akal yang dimiliki oleh manusia itu dapat mengantarkannya berdzikir kepada Allah Swt dalam keadaan apapun, tapi satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan dia berdzikir kepada Allah Swt adalah hati . Dimana hati dapat mengantarkan dia menjadi berbeda dengan makhluq yang lainnya.  Hati yang merupakan ruh dari Allah Swt. Maka konsumsinyapun harus dari Allah Swt, dimana konsumsi tersebut adalah ajaran-ajaran dari Allah Swt.
Pun, akal dan hati ibarat sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan begitu saja, keduanya memiiki kerjasama dalam hal mengendalikan manusia, jika ada hal yang tidak bisa dikuasai oleh akal, maka hati pun ikut berperan di dalamnya, hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal, dengan kata lain, untuk menentukan kecerdasan itu adalah hati. Hati yang mengendalikan seluruh pikiran akal. Ibarat lain, akal itu seperti sepeda motor, mobil, kereta api, kapal laut, pesawat terbang. Hal-hal tersebut memang canggih, tapi secanggih-canggihnya motor, mobil, kereta api, kapal laut, pesawat terbang. Tetap, tergantung supirnya (hati) – masinis, pilot – bisa tidak ia membawanya dan akan kemana ia akan membawanya. Otak itu memang canggih, akan tetapi, secanggih-canggihnya otak itu tergantung yang mengedalikan-nya, yaitu hati.
Seperti yang telah disebutkan diawal, bahwa akal dan hati merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut merupakan dua unsur tempat untuk berpikir. Yang satu berpikir lewat rasio, nalar, yang dapat membedakan mana yang salah dan benar. Dan yang satunya lagi berpikir lewat nurani, yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk. akan tetapi, dua unsur ini harus berjalan satu tujuan, arah. Tidak dibenarkan seseorang hanya mengandalkan berpikirnya itu pada akal, yang harus dibarengi dengan hati yang dapat mengendalikan akal tersebut, Memang akal mempunyai peran yang begitu signifikan, karena dengan akal, seseorang dapat berpikir, baik itu berpikir untuk mementingkan dirinya atau mementingkan sesamanya, sehingga dapat mensejahterakan atau meningkatkan kualitas dirinya maupun orang lain. Juga memang penting mendayagunakan akal di dalam ajaran islam itu sendiri. Islam menganjurkan kepada manusia untuk selalu berpikir dan merenung, banyak di dalam ayat al-Qur’an yang memerintahkan untuk berpikir. Banyak singgungan-singgungan al-Qur’an yang menggunakan kalimat afala ya’qilun ataupun afala yatadzakarun, semua singgungan tersebut secara otomatis memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa berpikir dalam wujud merealisasikan akal pikirannya yang telah diberikan oleh Allah Swt. Namun berpikir dalam konteks islam, yang dapat mengantarkan manusia kepada kesadaran dan berdzikir kepada Allah Swt Sang Khaliq seluruh alam semesta. Inilah kecerdasan dalam konteks islam yang dimaksud.
Seharusnya orang yang berpikir mendalam dengan akalnya, semakin cerdas seseorang, harus semakin pula betambah dzikir kepada Allah Sw. Tidak seperti para professor yang dijelaskan oleh Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi . Bahwa ada beberapa professor melakukan penelitian tentang kecerdasan dan keimanan, Dr. Hamid menjelaskan beberapa professor  melakukan penelitian di beberapa Negara, tercatat ada 137 negara yang mereka teliti, dari Negara-negara tersebut dibuatkan table oleh mereka yang mencantumkan tingkat IQ penduduk dari 137 negara tersebut dan prosentase penganut atheismenya. Sehingga Hyphothesis yang mereka teliti berbunyi “Semakin cerdas seseorang, ia semakin sekuler dan bahkan atheis ” mereka mengukur dari hyphothesisnya, kecerdasan atau akal diukur dengan IQ, sedangkan keimanan atau hati diukur dengan penganut atheismenya. Memang, ada sebagian Negara-negara yang mereka teliti, Negara yang IQ (tingkat kecerdasannya) tinggi, tingkat keimanannya pun rendah. Tetapi, tidak semua Negara yang IQ nya tinggi, juga tingkat keimanannya rendah.
Ada sebagian Negara yang memang tingkat IQ-nya tinggi, tapi tingkat keimanannya pun tinggi, artinya penganut kaum atheismenya rendah. Ini menunjukkan bahwa, penelitian dari mereka yang bergelar professor, sedikit keliru. Bahkan Dr. Hamid, menjelaskan, ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh mereka. Apakah korelasi tersebut menunjukan kausalitas? Apakah Negara yang penduduk IQ-nya tinggi, menyebabkan juga penganut atheismenya juga tinggi? Apakah kecerdasan mereka disebabkan  karena mereka komunis? Apakah atheisme di sana bukan karena tersebarnya faham komunisme? Inilah beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh mereka. Yang menyebabkan penelitian mereka memiliki dua masalah yaitu konsep dan metodologi.
Artinya, kenapa IQ mereka tinggi? Dan tingkat keimanannya rendah? Bukan karena kecerdasan atau akal yang mereka usung, akan tetapi, karena status sosial yang terjadi pada mereka. Dimana, agama – keimananan – tidak laku pada Negara-negara mereka – yang memilki IQ-nya tinggi dan tingkat atheismenya juga tinggi – melepaskan agama dari kehidupan mereka. Tapi kenapa mereka cerdas? Bukan karena mereka berpaham atheisme-nya. Tapi, mereka banyak memiliki kemudahan, kemakmuran dan kualitas pendidikan yang tinggi. Juga kenapa mereka berpaham atheis? Jawabannya, bukan karena mereka cerdas. Sekali lagi, karena agama disana sengaja dimarginalkan dan disingkirkan dari kehidupan bermasyarakat mereka.
Dari contoh kasus yang diusung diatas, menunjukan kepada kita bahwa antara akal dan hati harus berjalan satu arah di dalam fisik dan nurani kita. Itulah kaum ulul-albab yang menjadikan akal dan hati-nya sejalan dengan fikirannya. Mereka bertambah Khasyah kepada Allah Swt, semakin bertambahnya kecerdasan, semakin juga kedekatan berdzikir kepada Allah Swt, merekalah para ‘Ulama atau ulul-albab. Itulah sebabnya, kenapa para orientalis tidak sebut ‘ulama? Padahal mereka, sangat banyak sekali menguasai tentang Islam-nya, Ilmu Tafsir mereka kuasai, Ilmu Hadits mereka kuasali, Ilmu Bahasa Arab mereka kuasai dan ilmu-ilmu lainnya. Mengapa mereka tidak sebut dengan ‘ulama ataupun ulul-albab? Jawabannya, karena kecerdasan, kelimuan, akal mereka tidak mengantarkan untuk berdzikir dan mendekatkan kepada Allah Swt. Artinya, hati-hati mereka terabaikan dengan hal itu.
*HATI SEBAGAI PENGGERAK INTELEKTUALITAS QUR’ANI*
Dalam berbagai ayat tentang ulul-albab, dasar dalil yang membuat penulis memberikan subjudul “Hati sebagai penggerak intelektualitas qur’ani” yakni QS. Shad [38:29] berbunyi “Inilah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”
Kunci yang menjadi pegangan penulis, kalimat tadabbur dan juga ada kalimat mengenai ulul-albab nya. Ini menjadi sebuah isyarat bahwa kriteria ulul-albab menurut ayat tersebut, orang-orang yang selalu memperhatikan ayat-ayatnya. Namun, sebagaimana telah dijelaskan pada awal pembahasan, untuk meraih atau mengantarkan kita memperhatikan ayat-ayat nya, tidak hanya menggunakan akal rasio saja, tapi dibarengi dengan hati.  Imam Ja’far ath-Thabari, ketika menafsirkan ayat tersebut, maksud dari kalimat liyaddabbaru ayatihi adalah memikirkan, merenungkan hujjah-hujjah Allaj Swt, dimana Allah sendiri yang menjadi Syari’ terhadap syari’at-syari’at-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang menerima syari’at-syari’at tersebut dan mengamalkannya .
Sehingga, untuk menempuh jalan diatas, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam ath-Thabari, hal tersebut bisa ditempuh kalau manusia mau menggunakan akal dan hati-nya untuk mencapai hal tersebut. Begitupun, jika yang diandalkan untuk menempuh – dalam arti memikirkan, merenungkan ayat-ayat-Nya – dengan menggunakan akalnya saja, hati tidak ikut berperan dalam hal tersebut. Maka yang akan terjadi, hanya hawa nafsu saja, kemudian tidak ada, hawa nafsu yang mengantarkan kepada kebaikan, semua hawa nafsu pada dasarnya mengantarkan kepada kejelekan . Banyak orang yang terbengkalai dengan pemikiran seperti ini, mereka hanya fokus pada akalnya saja, tanpa keikutsertaan hati. Sehingga, banyak pemikiran-pemikiran-nya tidak sesuai dengan ajaran-ajaran islam. Paham liberalisme, pluralisme pun merajalela, menganggap LGBT, lesbi, tidak memakai jilbab pun tidak apa-apa, karena yang tidak berjilbab lebih cantik dari pada yang berjilbab. Maka kata Allah “Famatsaluhu kamatsalil-kalbi ” perumpamaan mereka itu seperti anjing. Banyak professor, doktor, aktivis, atau public figur-publik figure lainnya yang kehilangan nuraninya, yang mengatakan faham-faham seperti yang disebutkan diatas, itulah kaum anjing. Tidak ada anjing-anjing yang berani melawan kepada majikannya. Nah, ini manusia berani melawan kepada yang punya nya yakni Allah Swt. Ulaika kal-An’am bal-hum Adhol – mereka itu seperti hewan bahkan lebih sesat dari pada hewan. Mereka sudah kehilangan hati, pikiran, penghilatan, pendengaran.
Padahal, Allah Swt akan senantiasa mengangkat orang-orang yang akal dan hatinya dapat mentafakuri ayat-ayat-Nya. Maka disanalah, kaum ulul-albab. Yakni orang senantiasa dapat berpikir juga berdzikir. Itulah yang dijelaskan oleh Allah Swt:
ุฅู† ููŠ ุฎู„ู‚ ุงู„ุณู…ุงูˆุงุช ูˆุงู„ุฃุฑุถ ูˆุงุฎุชู„ุงู ุงู„ู„ูŠู„ ูˆุงู„ู†ู‡ุงุฑ ู„ุขูŠุงุช ู„ุฃูˆู„ูŠ ุงู„ุฃู„ุจุงุจ (190) ุงู„ุฐูŠู† ูŠุฐูƒุฑูˆู† ุงู„ู„ู‡ ู‚ูŠุงู…ุง ูˆู‚ุนูˆุฏุง ูˆุนู„ู‰ ุฌู†ูˆุจู‡ู… ูˆูŠุชููƒุฑูˆู† ููŠ ุฎู„ู‚ ุงู„ุณู…ุงูˆุงุช ูˆุงู„ุฃุฑุถ ุฑุจู†ุง ู…ุง ุฎู„ู‚ุช ู‡ุฐุง ุจุงุทู„ุง ุณุจุญุงู†ูƒ ูู‚ู†ุง ุนุฐุงุจ ุงู„ู†ุงุฑ (191)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali-Imran [03:190-191])
Yang sebenarnya ulul-albab, dengan melihat ayat diatas, mereka dapat memadukan antara dzikir dan pikir. Dan dzikir ini, Allah Swt sering menyebutkan di dalam al-Qur’an, ini memang konsumsi hati. Hanya dengan mengingat Allah, hanya dengan dzikirul-‘Llah. Hati itu akan tentram , hati itu akan benar-benar di dalam posisinya. Artinya, hati memang satu-satunya alat penggerak untuk senantiasa berdzikir kepada Allah, dengan mentafakkuri ayat-ayat al-Qur’an-Nya. Maka, ketika Allah Swt menyebutkan kaum ulul-albab, dengan kriteria yadzkurunallah dan yatafakkarun, inilah yang sebenar-benarnya manusia yang intelektual yang benar-benar harus kita rujuk.
Mereka adalah orang-orang yang cerdas, tetapi tidak kehilangan nuraninya. Mereka yang disebutkan oleh Allah “Innama yakhsay-‘Llaha min ibadahi al-‘ulama” keilmuan mereka, kecerdasan mereka dipadukan dengan khasyah kepada Allah Swt. Bukan para professor, doktor yang sudah kehilangan nuraninya, bukan para aktivis HAM yang sudah kehilangan dari fitrahnya, atau publik figur-publik figur lainnya, yang sering nongol di media massa. Dan berani mempertanyakan ajaran-ajaran dari Allah Swt.
Tafsir al-Qurthubi, di dalam riwayat ‘Aisyah ketika menafsirkan Qs. Ali-Imran ayat 190-191, ayat ini turun ketika Nabi Saw sedang melaksanakan sholat , dimana Bilal mengumanda-ngkan adzan untuk sholat. Tapi, ketika Nabi sedang sholat, Bilal melihat bahwa beliau menangis, Bilal penasaran, lalu Bilal menanyakan hal tersebut kepada Nabi Saw secara langsung. Kenapa wahai Rasulullah! Yang menyebabkan anda sampai menangis? Padahal, dosa-dosa anda baik yang telah lalu, maupun yang akan datang, Allah Swt telah mengampuninya. Nabi menjawab, wahai Bilal! Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur, karena saya telah melihat, ketika Allah menurunkan ayat ini (ali-Imran ayat 190-191), sungguh berat dan celaka bagi siapa saja yang membaca ayat ini, yang tidak sampai mentafakkuri ayat tersebut.
Nabi saja yang dijamin masuk surga, dijamin dosa-dosanya diampuni, tapi tetap saja, selalu mentafakkuri ayat-ayat-Nya. Artinya, Nabi Saw menggunakan hati untuk sebagai berpikirnya, sampai-sampai Nabi menangis ketika membaca ayat-ayat tersebut. Dimana Nabi Saw menjadikan hati sebagai penggerak intelektualitas qur’ani. Tidak mungkin Nabi sampai menangis, kalau tidak menggunakan hati untuk memikirkan ayat-ayat-Nya.
Sampai, para ‘ulama menganjurkan kepada orang muslim, barang siapa saja yang bangun di waktu malam-nya, kemudian mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat malam, lalu di dalam sholat-nya membaca dan diawali dengan sepuluh ayat ini , kemudian mentafakuri dan mengamalkan ayat-ayat tersebut, semua itu dapat dicapai dengan mengga-bungkan antara akal dan hati. Maka kata para ‘ulama itulah sebaik-baiknya amal. Orang yang dapat menggerakan untuk mengamalkan seuatu amalan yang sudah ia tafakkurkan itu bukan akal, tapi hati. Tidak ada akal yang dapat mendorong kepada dzikir kepada Allah Swt, kalau tidak diikutk sertakan bersama hati. Hati sebagai penggerak untuk berdzikir, mengingat Allah Swt, sebagaimana Nabi Saw benar-benar tersentuh hati-nya ketika membacakan ayat tersebut.
Yang menarik dari riwayat ‘aisyah, terdapat beberapa penjelasan dari riwayat lain, yang menurut penulis riwayat-riwayat tersebut merupakan instrument-instrument yang dapat menunjang untuk berdzikir kepada Allah Swt. Pertama, riwayat dari Abi Hurairah, menjelaskan bahwa Rasulullah Saw selalu membaca sepuluh ayat terakhir surah ali-Imran pada setiap malam-nya. Kedua, riwayat Abu Nashr al-Wa’ili al-Sajastani al-Hafidz di dalam kitab “al-Ibanah” hadits dari Sulaiman ibn Musa, dari Madhahir ibn Aslam al-Makhzumi, dari al-Maqburi, dari Abi Hurairah, yang meriwayatkan sama yakni Nabi Saw selalu membaca sepuluh ayat terakhir dari surah ali-Imran pada setiap malam-nya, Dimana Nabi Saw membaca-nya pada qiyamul-Lail. Bahkan ‘Aisyah menjelaskannya, Nabi berdzikir tidak hanya setiap malam, tapi setiap saat-nya . Dimana, ada dua instrument dari riwayat-riwayat tersebut yaitu bertadarus dan qiyamul-Lail.
*KESIMPULAN*
Dengan melihat pembahasan diatas, bahwa keintelektualan yang dipandang oleh al-Qur’an adalah orang yang dapat memadukan antara akal dan hati. sehingga antara dua unsur tersebut dapat mengantarkan khasyyah dan berdzikir kepada Allah Swt. Itulah kaum ulul-albab yang qur’ani, itulah ‘ulama. Salah besar, orang yang menetapkan intelektualitas hanya pada akal (IQ) saja. Dan masih belum juga disebut orang yang intelek, para professor, dokter jikalau mereka kehilangan hati nurani-nya. Dimana mereka adalah para orientalis yang bergelar, professor, doktor, yang keilmuan mereka tidak mengantarkan kepada dzikrul-‘Llah. Wal-‘Llahu a’lam bis-Shawwab